loading...

Inilah Kisah Seorang Ahli Selam Prancis Memeluk Islam setelah Menemukan Bukti (Al-Qur’an dan Sains) bahwa Air Tawar dan Laut Tidak Bercampur Walaupun Dilaut Dalam!






Para penyelam profesional telah mengeksplorasi wilayah Yucatan Peninsula, Meksiko, yang disebut Cenote Angelita. Fenomena menakjubkan ini kabarnya hanya bisa dilihat oleh penyelam terampil yang mampu menjelajah hingga kedalaman 180 kaki….

Website Daily Mail melaporkan, fotografer Anatoly Beloshchin telah mengabadikan eksplorasi Cenote Angelita. Ada pemandangan kabut yang berputar-putar tampak seperti sungai yang mengalir, lengkap dengan pepohonan yang muncul dari permukaan.

Kabut itu sebenarnya adalah lapisan tebal hidrogen sulfide yang memiliki kedalaman 6 kaki. Kabut muncul karena benturan antara air tawar di bagian atas gua dan air asin (air laut) yang mengisi di bagian bawahnya.

Pada saat menyelam, penyelam bisa menyalakan lampu mereka dan menemukan jalan sebelum masuk ke air asin. Kabut tersebut kabarnya bisa ditemukan saat penyelam mencapai kedalaman 90 kaki…
“Di bawah saya, saya melihat sebuah sungai, pulau, dan daun yang jatuh. Sebenarnya, sungai yang dapat Anda lihat, adalah lapisan hidrogen sulfida,” kata Beloshchin.

Fakta bahwa terdapat sungai (air tawar) yang tidak bercampur dengan air laut telah disebutkan dalam Alquran. Jauh sebelum manusia saat ini mengenal teknologi canggih dan menemukan fakta tersebut, Alquran menjelaskan fenomena itu sejak 14 abad silam.

وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi,” bunyi Surah Al Furqan Ayat 53.

Terkait dengan temuan sungai di bawah laut ini, ada kisah menarik tentang seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Prancis, Jacques-Yves Cousteau.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar yang tidak bercampur dengan air laut. Seolah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya….

Kemudian, suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim dan menceritakan fenomena itu. Profesor itu teringat pada ayat Alquran tentang bertemunya dua lautan pada surat Ar Rahman Ayat 19-20.

مرج البحرين يلتقيان ؛ بينهما برزخ لا يبغيان ؛

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing,” bunyi Surah Ar Rahman Ayat 19-20.

Mendengar ayat-ayat Alquran itu, Costeau kagum dan dikatakan ia memeluk Islam.
Wikipedia menerangkan, Jacques-Yves Cousteau lahir di Prancis pada 11 Juni 1910 dan meninggal dunia di Paris pada 25 Juni 1997.

Api tak hanya bisa hidup di daratan. Ternyata pascaperang dunia kedua, para ilmuwan menemukan sebuah fakta baru yakni adanya api di dalam lautan. Hal itu kemudian diketahui akibat letusan gunung di dasar lautan…

Dalam buku ‘Miracles of Al-Qur’an & As-Sunnah’ dijelaskan, dengan mempelajari bentangan pegunungan bawah laut ini, jelas bahwa gunung-gunung tersebut terbentuk sebagai akibat dari letusan-letusan dahsyat gunung berapi.

Fakta bahwa terdapat api di dalam laut telah disebutkan dalam Alquran sejak 14 abad lalu, jauh sebelum manusia mengenal teknologi canggih untuk bisa meneliti serta menemukan keberadaan api di dalam laut tersebut.​ Seperti yang tercantum dalam ayat berikut ini.

“Demi bukit dan Kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi Baitul Ma’mur, dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api, sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya,” Surah At Tur Ayat 1-8.

Terdapat jaringan raksasa pergeseran geologi yang meretakkan kerak berbatu Bumi dan mengitari celah akibat retakan tersebut. Pergeseran ini terutama berpusat di dasar laut…

Jaringan pergeseran geologi tersebut membentang hingga lebih dari 64 ribu kilometer dan kedalamannya mencapai sekira 65 kilometer menembus kerak berbatu. Jaringan pergeseran itu mencapai lapisan lunak yang dikenal sebagai zona lunak (astenosfer).

Di dalam astenosfer, bebatuannya dalam keadaan sebagian leleh dengan tingkat kepadatan dan kelekatan relatif tinggi. Arus panas menggiring berton-ton bebatuan yang meleleh itu ke dasar samudera. Selain itu, batuan tersebut juga menuju dasar beberapa lautan seperti Laut Merah dengan temperatur mencapai lebih dari 1.000 derajat Celsius.

Batuan ini yang diperkirakan berjumlah jutaan ton, kemudian mendorong air laut ke kanan dan kiri. Fenomena ini dikenal oleh para ilmuwan sebagai fenomena perluasan dan pembentukan kembali dasar laut dan samudera. Daerah yang dihasilkan dari proses perluasan itu dipenuhi dengan magma, sehingga mengakibatkan munculnya api di dasar samudera dan beberapa kawasan dasar laut…








loading...

0 Response to "Inilah Kisah Seorang Ahli Selam Prancis Memeluk Islam setelah Menemukan Bukti (Al-Qur’an dan Sains) bahwa Air Tawar dan Laut Tidak Bercampur Walaupun Dilaut Dalam!"

Post a Comment

loading...
'));