loading...

Inilah Perhiasan Yang Haram Walaupun Untuk Tujuan Memikat Suami!!






TIDAK semua dandanan dan solekan bagi suami itu halal, ada cara dandan yang haram dan bertentangan dengan Islam. Misalnya mengikuti cara berpakaian wanita kafir yang tidak pernas solat, wudhu, dan tidak menjalankan hukum syariat.

Wanita muslimah yang menghormati dirinya sendiri pasti takkan sudi menyerupai wanita-wanita kafir dan fasik. Dia akan konsisten menjaga agama dan dirinya yang telah dimuliakan oleh Islam. Wanita muslimah wajahnya akan kelihatan bersinar dengan air wuduk yang digunakannya untuk beribadah.

Oleh kerana itu, dia akan memilih dandanan dengan hiasan yang dibolehkan dan sesuai dengan sosoknya sebagai seorang muslimah.

Berikut beberapa dandanan dan hiasan yang haram:

Pertama, berlebihan dalam berhias dengan menghabiskan masa yang cukup lama dan wang yang tidak sedikit untuk mencari kosmetik, pakaian, serta ornamen hiasan terbaru yang dilancarkan ke pasaran.

"Sesungguhnya pembaziran itu adalah saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya," (QS. Al-Israa ayat 27).

Kedua, menghabiskan banyak masa di depan cermin dengan bersolek berbagai macam kosmetik. Sebab segala sesuatu yang berlebihan dan melampaui batas, akan menjadikan perkara yang negatif.

Ketiga, Rasulullah SAW bersabda, "Allah melaknat wanita yang membuat tato dan meminta ditato, yang mencabut bulu kening dan meminta dicabut, yang merenggangkan gigi dan memperindahnya, serta wanita-wanita yang mengubah ciptaan Allah." (HR. Al-Jami ash-Shaghir ).

Keempat, Rasulullah SAW bersabda, "Allah melaknat wanita yang menyambung rambut dan meminta disambungkan rambutnya." (HR. Al-Jami 'ash-Shaghir).

Kelima, Raulullah SAW bersabda, "Allah melaknat wanita yang menyerupai laki-laki." (HR. Al-Jami ash-Shaghir).

Keenam, Rasulullah SAW bersabda, "Laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, dan wanita tidak bboleh melihat aurat wanita yang lain," (HR. Muslim).

Sudah jelas bukan bahawa berpakaian dengan berlebihan hanya akan membuatmu melanggar peraturan-peraturan Allah, untuk itu taatilah perintah Allah dan berdoalah supaya hati tetap istiqomah di jalan-Nya. Dan Allah menjadikan kita wanita muslimah yang seutuhnya.

Setiap manusia yang diciptakan oleh Allah pastilah memiliki kecintaan serta senang dengan keindahan dan juga kebersihan, terutama dalam hidup sehat. Setiap orang menginginkan dirinya agar tampil bersih dan indah di mata orang lain. Namun, dalam Islam dianjurkan apabila kamu melakukannya dengan niatan ibadah, tidak berlebihan dan tidak menentang apa yang telah Allah tetapkan.

Setiap wanita menginginkan tampil anggun dan cantik, salah satunya adalah dalam penggunaan perhiasan. Biasanya hampir semua wanita menyukai perhiasaan, karena dapat menunjang penampilannya menjadi semakin lebih menarik. Ada banyak jenis perhiasan yang digunakan oleh wanita. Namun, bagaimanakah penggunaan perhiasan menurut islam bagi wanita? Berikut ini adalah beberapa perhiasan yang dilarang bagi wanita dalam Islam.

Mengikir Gigi

Mengikir gigi adalah menjarangkan antara gigi seri dan gigi taring. Hal ini bertujuan agar tampak lebih muda dan giginya menjadi lebih bagus. Hal ini termasuk hal yang dilarang karena mengubah ciptaan Allah dan juga dapat dikatakan sebagai penipuan. Akan tetapi, mengikir gigi dibolehkan jika maksudnya adalah untuk pengobatan atau terdapat cacat pada giginya.

Menambal Gigi dengan Emas

Menambal gigi dengan emas diperbolehkan apabila memang untuk pengobatan, bukan untuk berhias dan kecantikan. Imam Ibnu Qudamah mengatakan, Imam Ahmad berkata, menambal gigi dengan emas karena khawatir giginya lepas biasa dilakukan oleh banyak orang. Hal ini diperbolehkan jika memang berada dalam keadaan darurat.

Menggunakan perhiasan kuku

Memakai kuteks

Salah satu bagian tubuh yang biasanya sering dihias adalah kuku. Banyak wanita muslimah meniru kebiasaan wanita non muslim yang mengecat kuku-kuku mereka dengan kuteks. Wanita muslim yang memakai kuteks terkena dua musibah yang tidak bisa dianggap ringan, yaitu adalah menghalangi sampainya air wudhu ke kuku dan kedua adalah mereka menampakkannya kepada laki-laki yang bukan mahram. Namun kini, sudah ada jenis kuteks halal yang aman digunakan oleh wanita muslim.

Menyambung kuku

Menyambung kuku asli dengan kuku buatan yang lebih panjang dan lebih bagus daripada kuku aslinya. Ini adalah salah satu kebiasaan orang kafir yang harus dijauhi oleh segenap wanita muslimah. Jangan sampai kamu terbius dengan tingkah polah wanita kafir yang hanya mengajakmu ke dalam jalan kesesatan. Allah berfirman mengenai ucapan iblis :

“dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya. Barang siapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.”(QS. An-Nisa [4] : 119)

Memanjangkan kuku

Apabila kamu hobi memanjangkan kuku, maka kamu menyelisihi sunnah. Nabi bersabda :

“Lima perkara termasuk fitrah: khitan, membersihkan bulu rambut di sekitar kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan mencukur kumis.”

Lima perkara di atas tidak boleh dibiarkan melebihi 40 hari karena Sahabat Anas berkata, Rasulullah member waktu kepada kami dalam mencukur kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan, tidak boleh dibiarkan melebihi 40 hari.

Memanjangkan kuku termasuk bentuk meniru kepada binatang dan orang kafir, hal itu termasuk kebiasaan jelek yang berasal dari wanita fajir (pendosa) dan perkara ini telah melanda mayoritas wanita muslimah.

Sandal dan sepatu bertumit tinggi

Tidak boleh wanita muslimah memakai sandal atau sepatu yang bertumit tinggi karena hal ini termasuk bentuk penipuan dan menampakkan kedua kakinya. Allah berfirman :

“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahililah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 33)

Dahulu para lelaki dan wanita Bani Israil sholat bersama-sama. Para wanita memakai kaki palsu agar terlihat lebih tinggi di mata kekasihnya. Wanita yang memakai sandal dan sepatu bertumit tinggi terjatuh dalam beberapa pelanggaran, yaitu menyerupai wanita kafir barat, menampakkan kesombongan, dapat menimbulkan bahaya bagi badan, menunjukkan kelemahan iman pemakainya karena begitu cepatnya dia terima adat orang kafir dan orang yang memakainya seakan-akan tidak ridha dengan ciptaan Allah. Namun, hal ini tetap didasari dari niat yang ada dalam diri kita.

Perhiasan dalam bahasa Arab disebut az-zinah, iaitu sesuatu yang dapat memperindah sesuatu yang lain, barang yang dipakai untuk berhias.

Dalam al-Qur’an terdapat perkataan az-zinah (perhiasan), antaranya sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

Tafsirnya: “Dan demi sesungguhnya! Kami telah menjadikan di langit: bintang-bintang (yang berbagai bentuk dan keadaan) serta kami hiasi langit itu bagi orang-orang yang melihatnya.”

(Surah al-Hijr, ayat 16)

Hukum memakai perhaisan

Pada dasarnya perhiasan dalam erti kata mempercantik diri dan selain diri agar orang lain merasa senang memandang adalah diharuskan.

Perhiasan itu selama mana ianya tidak bertentangan dan berlawanan dengan syara‘ adalah sangat digalakkan dan dituntut dalam Islam. Sebagai contoh, Allah memerintahkan agar manusia memakai perhiasan pada setiap kali pergi ke masjid, firmanNya:

Tafsirnya: “Wahai anak-anak Adam! Pakailah pakaian kamu yang indah berhias pada tiap-tiap kali kamu ke tempat ibadat (atau mengerjakan sembahyang), dan makanlah serta minumlah, dan jangan pula kamu melampau; sesungguhnya Allah tidak suka akan orang-orang yang melampaui batas.”

(Surah al-‘Araf, ayat 31)

Perhiasan itu fungsinya bukan setakat untuk memperindah dan mencantikkan tubuh badan dan sesuatu tempat saja, seperti dinding-dinding dan ruang-ruang tertentu di dalam rumah, di masjid dan sebagainya, tetapi juga fungsinya menjadi alat dan bahan untuk kegunaan suatu tujuan, sama ada ianya digunakan kerana ada keperluan, seperti untuk perubatan, ataupun digunakan tanpa ada keperluan, seperti pinggan dan cawan yang diperbuat daripada perak atau emas digunakan untuk makan dan minum kerana semata-mata menunjukkan gaya kehidupan yang mewah.

Namun begitu, bukan semua jenis barang-barang perhiasan itu diharuskan untuk dijadikan bahan kegunaan dan hiasan diri dan tempat. Terdapat garis panduan hukum syara‘ yang menentukan bahan-bahan perhiasan mana yang boleh dan tidak boleh digunakan dan dipakai, baik bagi laki-laki mahupun perempuan

Berikut adalah beberapa contoh mengenai perhiasan yang dibenarkan dan yang dilarang di dalam Islam:

1) Barang-Barang Kemas Daripada Emas Dan Perak

(a) Barang-barang kemas daripada emas.

Segala perhiasan seperti cincin, anting-anting, kalung, gelang dan seumpamanya yang diperbuat daripada emas adalah harus dipakai oleh perempuan, tetapi haram bagi kaum lelaki.

Namun begitu, hukum harus berhias diri dengan emas bagi kaum perempuan itu tidaklah bersifat mutlak, tetapi hendaklah dibatasi pada had yang tertentu. Islam membatasi penggunaan atau pemakaian yang diharuskan itu dengan dua batasan, iaitu; tidak berlebih-lebihan dan tidak bermegah-megah.

Dalam hal ini tersebut dalam sebuah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana sabda Baginda:

Maksudnya: “Makanlah kamu dan bersedekahlah serta berpakaianlah dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak bermegah-megah.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menggunakan kain, selimut, tabir hiasan yang terdapat padanya lukisan gambar sesuatu yang bernyawa seperti gambar atau lukisan manusia, haiwan atau binatang. Akan tetapi, tidak menjadi apa-apa, yakni harus, memakai kain yang terdapat padanya lukisan gambar sesuatu yang tidak bernyawa seperti gambar atau lukisan pokok, sungai, gunung-ganang dan seumpamanya.

Termasuk juga perkara yang dilarang oleh syara‘, memakai pakaian yang memaparkan apa sahaja jenama minuman keras yang diharamkan oleh syara‘, kerana dengan memakai pakaian tersebut secara tidak langsung ia menandakan bahawa dia redha, menyokong, memberi pertolongan kepada mempromosi minuman tersebut, walaupun dia tidak berniat sedemikian.

Demikian juga, memakai pakaian yang memaparkan lambang persatuan-persatuan dan simbol-simbol agama lain seperti salib. Salib termasuk benda-benda yang dipakai khas bagi orang Nashrani.

Menurut pendapat Al-Imam Al-Sayyid Abdullah bin Yahya, bahawa orang Islam yang memakai salib dengan cenderung hatinya pada agama Nashrani atau dia maksudkan menyerupai orang kafir pada cogan-cogan atau adat kufur mereka, maka dia dihukumkan kafir. Dan jika tidak cenderung hatinya pada agama Nashrani dan tidak pula dia maksudkan menyerupai mereka pada cogan-cogan atau adat-adat kufur bagi orang Nashrani, maka dia telah berbuat haram dan dosa. Dan jika dia menyerupai orang Nashrani dalam perkara yang tersebut dengan tidak sengaja atau tidak semena-mena dan tiada maksud sesuatu daripada perkara-perkara yang tersebut, maka tidaklah berdosa tetapi dia telah membuat sesuatu yang makruh.

Memakai Cemara

Yang dimaksudkan dengan memakai cemara ialah memakai rambut tambahan, sama ada daripada rambut lain, nilon atau lain-lain yang digunakan untuk membesarkan sanggul. Ia adalah sebahagian daripada cara menghias diri, khususnya bagi perempuan.

Perbuatan orang yang menyambung rambutnya sendiri dengan rambut yang lain atau meminta disambungkan rambutnya hukumnya adalah haram, tidak kira sama ada perempuan ataupun lelaki.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahawa Allah Subahanahu wa Ta'ala melaknat orang yang melakukannya, bahkan perempuan yang rambutnya gugur kerana sakit atau perempuan yang hendak menjadi pengantin tetap dilarang melakukannya. Ini adalah berdasarkan beberapa hadis shahih, antaranya hadis yang diriwayatkan daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha:

Maksudnya: “Seorang perempuan Anshar telah berkahwin, dan sesungguhnya dia sakit sehingga gugur rambutnya, kemudian keluarganya bermaksud untuk menyambung rambutnya. Lalu mereka bertanya dulu kepada Nabi, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut dan yang meminta disambungkan rambutnya.”

(Hadis riwayat Al-Bukhari)

Dalam satu riwayat yang lain, Asma’ binti Abu Bakar berkata:

Maksudnya: “Seorang perempuan telah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya anak saya terkena suatu penyakit sehingga rambutnya gugur, dan saya akan mengahwinkannya, apakah boleh saya menyambung rambutnya?” Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut dan yang disambungkan rambutnya”

(Hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Islam tidak pernah menafikan naluri dan keinginan manusia untuk berhias supaya senang dan sedap dipandang. Akan tetapi itu tidak bermakna Islam memberi ruang secara mutlak untuk setiap orang berhias mengikut selera masing-masing tanpa batasan. Batasan yang digariskan oleh syara‘ itu pula bukanlah semata-mata menyekat kemahuan dan selera manusia. Akan tetapi ianya mengandungi hikmat dan tujuan yang lebih tinggi, seperti memelihara kemurnian aqidah, menjauhkan daripada sifat bermegah-megah, sombong, pembaziran, penipuan dan sebagainya. Semua ini tidak lain dan tidak bukan adalah demi kesejahteraan dan kebaikan manusia itu sendiri.

Dalam perkara kesenian pula, seni ukir umpamanya, Islam memandangnya sebagai suatu yang indah, selama mana dalam batas-batas yang dibenarkan atau diharuskan oleh syara‘. Urutan sejarah telah membuktikan berapa banyak patung yang tujuan asalnya untuk menjadi iktibar dan pengajaran akhirnya bertukar kepada pemujaan, paling sedikit ada rasa penghormatan dan pemuliaan terhadap patung-patung itu. Tidak kurang pula berlaku pembaziran kerana harga yang tinggi patung itu.

Wallahualam








loading...

0 Response to "Inilah Perhiasan Yang Haram Walaupun Untuk Tujuan Memikat Suami!!"

Post a Comment

loading...
'));