loading...

Kisah Suamiku Pergi Bekerja Selama 3 Tahun Dan Tidak Pernah Pulang ke Rumah, Diam-diam Aku Membawa Anak-anak untuk Bertemu Dengannya. Saat Memasuki Bilik Tidurnya, Hatiku Hancur…!






Aku telah menikah selama 7 tahun. Aku dan suami berasal dari kota yang sama. Kerana kami berdua berasal dari keluarga biasa yang berada di kota kecil, situasi keluarga sangat mirip, jadi pandangan kami berdua sangat selaras.

Dia tidak kaya raya, tapi dia orang yang jujur, berkualiti, sangat layak dipercaya, dan rajin. Ketika dia jatuh cinta dulu, dia sering berkata, “Saya harus menghasilkan banyak wang, dan kemudian saya akan memberi kamu hidup yang penuh dengan kebahagiaan.”

Kesungguhan dan cintanya yang besar sangat menyentuh hatiku. Kerana itulah aku menerima dia sebagai suami.

Belum lama ini, aku hamil dan melahirkan seorang anak perempuan. Hidup masih sangat sulit, tapi ketika anak perempuan pertama saya mulai bisa berbicara, ibu mertuaku mendesak kami untuk memiliki bayi lagi, yang pastinya dia berharap akan punya anak laki-laki.

Aku sendiri juga tertekan tapi mungkin Tuhan juga merahmati kami, untuk kedua kalinya, aku melahirkan lagi, dan itu adalah seorang anak laki-laki yang sangat comel.

Setelah memiliki anggota keluarga kecil lagi, beban ekonomi yang ada di bahu kami semakin berat. Meski kami serta anakku diperlakukan sama oleh mertuanku , bukan bias anak dan menantu, juga antara cucu laki-laki dan perempuan, namun sebenarnya kami sangat kesulitan menanggung beban hidup.

Suatu hari, tiba-tiba suamiku berkata: “Istriku, hidup kita sulit, beban ekonomi keluarga kita cukup besar, aku dengar di desa lain ada orang pergi kerja ke luar kota, penghasilannya tinggi, stabil, saya juga ingin pergi bersama mereka untuk mendapatkan sejumlah wang untuk membiayai keluarga.”

Anak laki-lakiku masih berumur satu tahun, kali ini dia mau pergi selama 3 tahun, aku benar-benar tidak setuju, tapi tidak ada cara lain, aku harus menganggukkan kepala, membiarkan dia pergi untuk mencari nafkah untuk keluarga.

Selama tiga tahun sejak dia pergi, aku juga tidak pernah mengunjungi ibuku …

Dan aku, meski ingin mengunjunginya, ingin secara pribadi melihat hidup suami, bagaimana keadaanya, apakah keadaannya sehat? Tapi di rumah ada dua anak, ibu mertua juga sudah tua, aku hanya tahu setiap hari menunggu bayangannya muncul, mendengarkannya melalui telepon yang sangat-sangat jarang.

Kerinduan selama tiga tahun juga hanya bisa diharapkan pada sebuah telepon. Dia tidak pernah berkunjung ke rumah tapi setiap bulan dia selalu mengirim wang, meski jumlahnya tidak banyak, tapi setidaknya dia masih ingat akan rumahnya.

Waktu terus berlalu, kedua anak saya sekarang lebih besar, mereka juga mulai pergi ke taman kanak-kanak, semua biaya juga meningkat, apalagi, penyakit ibu mertuaku semakin teruk setiap hari.

Dia harus minum obat setiap hari, wang yang dikirim tidak cukup untuk membiayai seluruh keluarga. Jadi, aku meminta orang untuk memberi aku pekerjaan di penitipan anak, mencari penghasilan tambahan untuk membantu kehidupan keluargaku.

Anak kecilku sering bertanya kepada “Bu, ibu kemana saja? Kenapa ibu dan ayah punya rumah tapi jarang terlihat di rumah? ”

Suara anak yang suci itu membuatku sedih tapi juga tidak tahu bagaimana menjawabnya dengan benar, aku tidak ingin mengatakan apa-apa pada mereka, bahwa ayah mereka telah pergi lama.

Dia telah pergi selama beberapa tahun, dan sejak itu belum pernah kembali lagi, anak-anak kami bahkan tidak ingat wajahnya, hal yang paling aku khawatirkan adalah aku tidak ingin anakku menjadi sedih, harus tetap tegar.

Meski terkadang saya juga sedih saat memanggil anak-anak, melihat mata mereka, mereka ingin dipeluk dan dicintai seperti anak-anak lain.

Suatu hari ibu mertuaku terlihat sehat, anakku juga sedang cuti sekolah, jadi ibu mertuaku diam-diam membawa kami untuk menemukan anaknya, untuk memberinya kejutan kegembiraan.

Kami naik kereta api dan memakan waktu dua hari, baru sampai ke tempat dia bekerja. aku membuka telepon untuk memanggilnya, memberitahukan kepadanya bahwa kami berada di kota, sepertinya dia sulit percaya, dia berpikir aku bergurau dengannya.

Baru setelah dia mendengar suara ibu dan anak kecilnya, dia yakin kami ada di sini. Dia menyuruh kami menunggu dia menyelesaikan pekerjaannya, dan memesankan kereta untuk menjemput kami.

Setelah menunggu beberapa waktu, sebuah kereta taksipun datang. Taksi itu membawa kami ke suatu tempat seperti pinggiran kota, jauh sekali.

Saya melihat dia berdiri di sana. Melihat kami, dia merasa seperti sedang bermimpi, matanya memerah, bibirnya setengah terbuka seolah mengatakan sesuatu tanpa berkata apa-apa.

Sebelum pergi menemuinya, akal pikiran aku akan mengatakan banyak hal, banyak bertanya padanya, tapi sekarang, setelah melihat suami tercintaku yang selama bertahun-tahun tidak bertemu, aku tersedak dan tidak mampu mengatakan apa-apa selain diam sambil menatapnya.

Air mata mengalir di pipiku, samar-samar aku sadar, dia sangat kurus, wajahnya terlihat sangat lelah. Aku mulai mengingat anak laki-laki kecilku, dengan tergesa-gesa mengatakan kepada anak laki-lakiku : “Panggil dia sayang, dia ayahmu.” … Suamiku melihatnya dan memeluk anaknya, ada sangat banyak tekanan dan kerinduan untuk dilepaskan.

Setelah itu dia membawa kami ke suatu ruangan.



Tanpa diduga, baru saja memasuki pintunya, saya sudah takut dan sedih. Ruangan itu luasnya tidak lebih dari sepuluh meter persegi, nampaknya sudah dibangun sejak lama, dindingnya telah rusak dan retak.

Perabot di ruangan itu tidak lebih dari sebuah tempat tidur dengan selimut katun tua, kompor listrik dan sebuah kursi. Bajunya masih di pojok, bahkan toilet pun sudah tidak ada lagi.

Dia tidak sendiri, mungkin karena penghematan biaya, dia berkongsi tempat tinggal itu bersama seorang rekan kerja.

Baik ibunya dan aku, sangat terkejut oleh pemandangan di depan kami, sungguh tak dapat dipercaya bahwa selama bertahun-tahun, hidupnya sangat menyedihkan.

Kami tinggal bersamanya selama sekitar satu minggu dan kemudian, sebelum pergi, dia berjanji pada anaknya: “Tahun ini, ayah pasti akan pulang, ayah akan membawa mainan untuk kalian.”








loading...

0 Response to "Kisah Suamiku Pergi Bekerja Selama 3 Tahun Dan Tidak Pernah Pulang ke Rumah, Diam-diam Aku Membawa Anak-anak untuk Bertemu Dengannya. Saat Memasuki Bilik Tidurnya, Hatiku Hancur…!"

Post a Comment

loading...
'));